Monday, 17 April 2017

Sepenggal kisah anak perantauan #1

Hidup untuk Berjuang?, atau Berjuang untuk Hidup!
Dalam dunia nyata khususnya bagi anak perantauan dari kedua kalimat diatas yang lebih pantas mewakili kisah mereka ialah "Berjuang untuk Hidup!". Dimana mereka akan diuji habis-habisan dalam menjalani hidup sebagai anak perantauan, jauh dari lingkungan yang membesarkannya, jauh dari teman yang menemani tangis dan tawanya dan yang lebih pedih harus jauh dari orang tua dan keluarga yang mungkin slalu memanjakannya...
Dan pastinya rasa rindu akan slalu datang di bulan bulan pertama saat merantau. Dimana kita rindu nongkrong bareng teman, kumpul bareng tetangga, atau sekedar bercanda sama keluarga. Dan yang lebih menyakitkan adalah disaat kita susah atau diposisi terpuruk kita jauh dari mereka, yang biasanya merekalah penghibur kita.
Maka sebelum kita merantau pastikan kita siap dengan sgala konsekwensi yang akan datang. Saat merantau kita dituntut untuk selalu siap dan tegar dalam menghadapi segala hal, karena tidak semua hal mampu datang sesuai dengan apa yang kita pikirkan, contoh kecilnya saja saat kita pergi merantau untuk mencari pekerjaan, biasanya kita berfikir dengan merantau ke kota yang lebih maju maka kita akan mendapatkan banyak peluang kerja disana, nyatanya tidak demikian, dikota maju juga banyak calon-calon pekerja yang handal, dan mungkin lebih handal dari kita, maka dari itu cerdas di otak saja tidak cukup, artinya kita juga harus punya skill yang mampu membuat kagum orang lain. Berjuang hidup dikota orang tidak semudah kita berjuang dikota sendiri, dikota orang kita harus beradaptasi dengan lingkungan baru, bertemu dengan orang-orang baru, serta harus belajar hal hal baru yang ada dikota tersebut. Mungkin itu semua terlihat mudah, namun kenyataannya sungguh luar biasa menguras tenaga, pikiran, serta emosi, belum lagi kalo tujuan kita belum tercapai, akan sangat sulit menjalaninya, kita ingin fokus pada satu titik terlebih dahulu namun disisi lain kita dituntut untuk fokus ke banyak hal, dengan demikian emosilah yang paling diuji, kesabaran dan cara mengatur waktu lah jalan terbaik.
Selain hal diatas dalam dunia perantauan kita juga harus memikirkan materi, dimana tujuan kita merantau pastinya untuk mendapatkan materi yang lebih utuk hidup yang lebih layak pula, namun bagaiman kalau kita belim juga mendapatkan hasil yang kita targetkan?, kecewa pasti menjadi momok yang menakutkan. Kelaparan di tanggal tua, minim hiburan di tanggal tua, dan lain sebagainya. Hemat pasti akan kita lakukan namun seberapa kita kuat berhemat jika kita hidup bermasyarakat, kita merantau mencari kehidupan yang lebih layak disisi lain kita juga mencari teman, dan pastinya kita juga ingin mengikuti apa yang teman lakukan, menghibur diri dengan nonton misalnya, atau hanya sekedar nongkrong di cafe-cafe dan itupun juga memerlukan biaya. Menolak ajakan teman sesekali mungkin masih bisa namun untu selalu menolak ajakannya saya rasa kita tidak akan mampu.
Lupa waktu... dalam dunia anak perantauan biasanya akan sangat sering lupa waktu. Waktu untuk istirahat, waktu untuk menghubungi keluarga, dan waktu untuk menjalankan ibadah, ini terjadi mungkin karena mereka terlalu mengejar materi, hingga lupa akan hal-hal penting.
Maka dari itu semua persiapkan diri dengan sebaik-baiknya sebelum merantau. Agar perantauan kita menghasilkan apa yangvkita targetkan tanpa melupakan hal hal penting disekitar kita.

About the Author

Unknown

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

Post a Comment

 
Punakawan's © 2015 - Designed by Templateism.com